Ini lanjutan kisahnya kawan..
waktu aku putih, baiklah, waktu aku merasa putih, banyak sekali hal baru yang kutemukan. sebut saja aturan-aturan kebaikan.
ya, waktu aku putih -merasa putih- mungkin aku adalah salah satu dari banyak orang-orang putih yang berdiri di depan untuk mengusung aturan-aturan itu. luar biasa sekali rasanya. namun entahlah, mungkin karena aku baru mnjadi putih pada waktu itu, dalam hati ku lebih banyak merasa bangga kepada diri sendiri, dan cenderung menunjukkan aksiku kepada orang lain, mungkin dalam bahasa Indonesianya ini yang dinamakan pamer.
sepertinya itu tidak bagus.
terlalu banyak rasa bangga dalam diri padahal aktivitas itu sangat baru aku lakukan. terlalu senang dan berkuasa karena punya kekuatan, pengaruh. itu gawat.
maua jadi apa nantinya?
pernah suatu saat ada seorang teman -yang sebut saja- aku serang habis-habisan atas nama aturan-aturan kebaikan itu, tentu saja aku tidak sendiri, aku bersama teman-teman lain sesama pengusung yang baru gabung. begitu bangganya hati ini, berjalan di atas muka bumi dengan dagu terangkat, semuanya demi menegakkan aturan-aturan itu, tapi ketahuilah kawan, sayangnya, ya sayangnya itu hanya kelihatan di luar. aku bergerak lebih karena tatapan mata orang lain, bukan karena tatapan mata Sang Pembuat Aturan. sekali lagi sayangnya, aku yang dulu tidak menyadari itu. gawat sekali bukan?
aku dulu merasa putih, merasa di zona putih, padahal mungkin dari dulu aku sudah berada di zona hitam, bukan putih, bukan abu-abu pula.
ini gawat sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar